Showing posts with label puisi fasih radiana. Show all posts
Showing posts with label puisi fasih radiana. Show all posts

Friday, November 14, 2014

Bila Kau Bukan Takdirku


Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?

Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.

Sayang.
Aku tak pernah suka mendengar sebutan itu membumbung sampai ke gendang telingaku. Skeptis bahwa itu salah satu bukti seseorang benar-benar merasakannya mengaliri rusuknya.

Tapi denganmu aku bersetia menunggu "sayang"-mu mencumbui pendengaranku.

I love you.
Aku jejap dengan kalimat yang katanya romantis. Aku geli dengan bualan yang terlalu dini untuk bisa dipercaya keberadaannya di dalam hati.

Tapi bersamamu aku selalu merindu "I love you"-mu menjejali gemeretak dalam gigilku.

Dan sejauh ini aku hanya ingin menapaki langkahmu sampai benar-benar berhenti di satu petak yang kusebut takdir. Meski jauh sebelum hari menjadi terlalu dingin, pertemuanku denganmu sudah kunikmati sebagai bagian dari takdir.

Ada bagian di semuaku meyakini seutuhmu. 
Di waktu bersamaan, aku was-was kalau saja ternyata segala milikku tak juga pas menggenapimu.

Sayang, dengarkan aku. Bila saja jodoh bukan di genggamku menyela jemarimu. Bila saja aku bukanlah akhiran dari baid puisimu, atau ternyata kita tak pernah dituliskan untuk menua di atap yang satu ... bibirku akan semakin lihai mendoamu, lalu akan ada tangan yang semakin lama bertengadah sampai fajar nyaris pecah. Biar patah takdir-takdir yang barangkali salah.

Sebab setiap kali kauakhiri dialogku, kulumati kalimat-kalimat rindu sampai habis waktu menunjukkan pukul tujuh. Setiap kali kuakhiri ceritamu, kaukunyah kata demi kata cinta sampai habis ruang subuh.


041114~Kubuang jauh-jauh larik di awal tulisanku, bantu aku menghapusnya biar tak ada celah bagi yang lain memasuki kau dan aku. I Love you.









Sunday, October 12, 2014

Ajari Aku Membahagiakan Kita


Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.

Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Terlalu dini menyampaikan ini. Bahwa sebenarnya aku benci mengatakannya. Mencintaimu. Yang awalnya kupikir hanya egoku membahagiakan diri. Nyatanya aku tak perlu kamu memberiku bahagia, terlalu pedih merasakanmu terluka dan sering aku tak mampu mengartikannya. Yang mulanya kukira hanya hatiku yang begitu rapuh tanpamu. Nyatanya aku bisa jadi begitu ampuh saat kau sedang jatuh. Aku paham, Sayang. Kita sedang berusaha menyatukan dua kebiasaan yang berbeda. Kita sedang mencoba menyelipkan jemari yang berukuran beda, meletakkannya pada genggam yang tak kan bisa dilepaskan oleh apapun; siapapun. Kau tahu, Sayang? Memang tak mudah untuk dua kepala, dua hati, dua raga, dua pola, dan segala yang dua untuk melebur dalam satu jiwa.

Tapi sekali lagi, ingatkah bahwa perlahan ada yang samar-samar mulai tak lagi tampak di permukaan? Aku tak lagi amuk bepergian sendiri. Kau tak lagi sesering dulu meredam ribut di dadamu.

Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Aku takut mendengarnya. Karena pernyataan sebelum ini sudah menjadi jawaban bagiku. Bukankah sebenarnya mudah bagi kita memahami tanpa berbicara secara rinci? Sebab kau sendiri yang bilang, ada bagian yang sama persis. Meski nyatanya kita tetap sama-sama butuh pengulangan kata yang tegas. Agar tak salah mengira-ngira. Agar tak salah tuduh rasa. Agar lebih mudah membahasakan kekecewaan. 

Kalau begitu maki aku sepuasmu, Sayang. Sekarang juga. Sampai remah-remah amarah tak lagi merumah. Biar aku meramah. Biar aku bisa memelukmu erat-erat. Biar aku juga merasakan degup yang terdengar begitu kencang meski hanya dengan membacamu. Biar kau tahu, seberapa dalam aku mencintaimu.

Lalu, tak bahagiakah aku denganmu, Sayang?

Meski kerap kali kupertanyakan mengapa dulu kaulakukan: menghabisi air mataku. Meski masih sering kujumput lagi kisah bekas luka lama, sampai bosan membumbung di gendang telingamu. Butuhkah jawaban dariku. Berbahagiakah aku denganmu?

Ajari aku cara yang paling pas untuk meyakinimu. Maka ajari aku memasuki tulangmu. Merangsuk ke sumsummu. Ajari aku membahagiakan kata ganti dari kau dan aku: kita.


131014~Maka kuajari kau caranya membahagiakan aku: cintai saja, seperti tak pernah kaukenali wanita selain aku.